Majalah alKisah

Majalah Islam Online

Ghurur

www.majalah-alkisah.com

ghurur adalah ke­adaan seseorang yang terkelabui hati­nya, baik oleh bisikan-bisikan setan mau­pun ilusi dirinya sendiri, sehingga dikuasai oleh prasangka yang keliru tentang sesuatu.

Dari segi bahasa, ghurur berasal dari kata gharra-yaghurru-gharran, ghuraran-ghururan, dan ghirrah. Ibn Manzhur dalam karyanya, Lisan al-‘Arab, mengartikan ghurar dengan khida’ (tipuan), thama’ (rakus), dan bathil (batal dan sia-sia).

[adsense:250x250:0123456789]

Dalam kata ghurur ada dua versi penyebutan. Jika dibaca dengan ghurur, maknanya adalah kebathilan-kebathilan. Az-Zujjaj menjelaskan bahwa ghurur adalah jamak dari gharin, yang artinya apa yang dibanggakan dari kesenangan dunia. Sedangkan bilamana dibaca gharur, maknanya segala hal yang me­nipu dari setan dan manusia dan yang lainnya. Gharur juga dapat diartikan dunia yang melenakan.

Ar-Raghib Al-Ishfahani juga men­jelaskan bahwa gharur adalah segala hal yang menipu manusia dari harta, pang­kat, jabatan, dan setan. Setan adalah penipu yang paling keji, sedangkan du­nia dapat menipu dan merusak.

Dengan demikian ghurur adalah ke­adaan seseorang yang terkelabui hati­nya, baik oleh bisikan-bisikan setan mau­pun ilusi dirinya sendiri, sehingga dikuasai oleh prasangka yang keliru tentang sesuatu.

Ghurur juga bisa diartikan dengan tertipunya diri dengan diamnya jiwa pada sesuatu yang cocok dengan ajakan hawa nafsu dan ia tidak berusaha me­nolaknya tetapi bahkan menurutinya.

Kata ghurur, tanpa kata derivatifnya, disebut sembilan kali dalam Al-Qur’an, yaitu QS Ali ‘Imran:185, An-Nisa`:120, Al-An’am:112, Al-A’raf: 22, Al-Isra`: 64, Al-Ahzab: 12, Fathir: 40, Al-Hadid: 20, dan Al-Mulk: 20.

Sedangkan kata gharur disebut tiga kali, yakni Surah Luqman: 33, Fathir : 5, dan Al-Hadid: 14.

 

Penyebab Ghurur

Di antara penyebab ghurur, sebagai­mana disebut dalam Al-Qur’an, yaitu ghurur yang disebabkan oleh setan, orang-orang kafir, munafik, dan dunia beserta perhiasannya.

Ghurur yang disebabkan oleh setan di antaranya diterangkan dalam QS An-Nisa‘: 120, “Setan itu memberikan janji-janji kepada mereka dan membang­kit­kan angan-angan kosong pada mereka. Padahal setan itu tidak menjanjikan kepada mereka selain dari tipuan belaka.”

Ayat ini menjelaskan bahwa setan memberikan janji-janji kosong kepada manusia. Akibat dari janji tersebut timbullah angan-angan kosong, padahal yang dijanjikan setan itu tidak ada melainkan tipu daya belaka.

Muhammad Quraish Shihab menje­laskan, pada ayat sebelumnya, yakni ayat 119 QS An-Nisa‘, telah ditutup de­ngan penegasan bahwa yang mengikuti setan dan terpedaya oleh janji dan rayu­annya akan menderita kerugian yang nyata, maka ayat 120 ini menjelaskan kerugian-kerugian yang didapat.

Selanjutnya pada QS Al-Isra‘: 64, “Dan doronglah siapa yang kamu sang­gupi di antara mereka dengan suaramu dan kerahkanlah terhadap mereka pa­sukan berkuda dan pasukanmu yang berjalan kaki dan berserikatlah dengan mereka pada harta dan anak-anak dan beri janjilah mereka. Dan tidak ada yang dijanjikan oleh setan kepada mereka melainkan tipuan belaka.”

Dengan ayat ini, Allah menguatkan makna yang terkandung dalam QS An-Nisa‘: 120 bahwa apa yang dijanjikan setan hanyalah tipu daya belaka. Kata ghurur dalam ayat ini dinisbahkan ke­pada salah satu perbuatan setan dalam mengganggu manusia, yakni menam­pakkan sesuatu yang sebenarnya buruk dengan bentuk yang indah, atau menjan­jikan sesuatu yang tidak akan terjadi dan kalau terjadi akan mengecewakan.

Adapun ghurur yang disebabkan oleh orang-orang kafir dan munafik, Allah SWT memperingatkan orang-orang mukmin agar tidak sampai per­caya akan per­kataan dan aktivitas orang-orang kafir dan munafik yang menyenangkan, ka­rena perkataan dan aktivitas mereka me­rupakan tipuan yang akan membawa ke­pada kelalaian dan kesesatan. Di antara ayat yang mene­kankan hal ini adalah QS Al-Mukmin: 4, “Tidak ada yang memper­debatkan ihwal ayat-ayat Allah kecuali orang-orang yang kafir. Karena itu ja­nganlah pulang balik mereka dengan be­bas dari suatu kota ke kota yang lain mem­perdayakan kamu.”

Maksud dari ayat ini, ghurur yang di­lakukan orang-orang kafir atas Nabi dan sahabat jangan sampai membuat me­reka menduga sesuatu yang datang dari orang-orang kafir itu baik padahal se­benarnya buruk. Orang-orang musyrik memang pada saat itu mempunyai ke­mampuan dan kesenangan hidup, se­hingga patut diwaspadai, bukan untuk diikuti dengan pembenaran hati dan per­buatan.

Adapun ghurur yang disebabkan oleh dunia dan perhiasannya dinyatakan dalam QS Luqman: 33, “Hai manusia, bertaqwalah kepada Tuhanmu dan takutilah suatu hari yang (pada hari itu) seorang bapak tidak dapat menolong anaknya dan seorang anak tidak dapat (pula) menolong bapaknya sedikit pun. Sesungguhnya janji Allah adalah benar. Maka janganlah sekali-kali kehidupan dunia memperdayakan kamu, dan ja­ngan (pula) penipu (setan) memper­dayakan kamu dalam (mentaati) Allah.”

Ayat di atas memerintahkan manusia agar bertaqwa kepada Allah SWT dan mengandung peringatan Allah kepada manusia agar tidak terpedaya oleh dunia dan perhiasannya, karena semua itu tidak akan dapat menolong pada hari yang dijanjikan oleh Allah, yaitu hari Kiamat. Ayat ini mengisyaratkan bahwa gemerlapnya dunia itu sendiri, tanpa faktor lain, sudah cukup berpotensi memperdayakan orang, membuat ghu­rur diri seseorang. Apalagi jika berga­bung dengan ghurur yang dilakukan setan. Setan yang disebut dalam ayat ini dengan gharur atau penipu, yang menjebak seseorang saat kelengah­an­nya, tidak membutuhkan gemerlapnya dunia sebagai sarana untuk membuat manusia terlena. Bukankah banyak orang zuhud dapat diperdaya setan dengan seribu satu caranya?

Kemudian pada QS Fathir: 5, Allah Ta’ala kembali mengingatkan, “Hai ma­nusia, sesungguhnya janji Allah adalah benar, maka sekali-kali janganlah ke­hidupan dunia memperdayakan kamu dan sekali-kali janganlah setan yang pandai menipu, memperdayakan kamu, tentang Allah.”

Yang dimaksud “Janganlah kehidup­an dunia memperdayakanmu”, sebagai­mana dijelaskan Al-Baidhawi dalam taf­sirnya, mengandung arti bahwa dunia me­lupakanmu dari memikirkan akhirat, karena mengejar kepuasan padanya. Selanjutnya dalam menjelaskan “Dan sekali-kali janganlah setan yang pandai menipu, memperdayakan kamu, tentang Allah”, Al-Baidhawi menafsirkan, bisikan setan yang mengedepankan ampunan Allah ketika seseorang menjalankan maksiat dengan rayuannya, walaupun be­sar kemungkinannya Allah mengam­puninya atas dosa-dosa ketika sese­orang itu jatuh dalam kemaksiatan, se­perti meminumkan racun untuk menghi­langkan penyakit.

Begitu pula dengan QS Al-Hadid: 20, “Ketahuilah bahwa kehidupan dunia ha­nyalah permainan dan kelengahan, serta perhiasan dan bermegah-megah di an­tara kamu serta berbangga-bangga ten­tang harta dan anak, ibarat hujan yang mengagungkan petani tanaman-tanam­an­nya kemudian ia menjadi kering, ke­mudian engkau lihat dia menguning ke­mudian hancur, dan di akhirat ada adzab keras dan ampunan dari Allah serta ke­ridhaan-Nya, dan tidaklah kehidupan du­nia kecuali kesenangan yang menipu.”

Ayat ini memperingati manusia, ja­ngan sampai tertipu oleh kegemerlapan dunia dan perhiasannya, karena itu ha­nyalah kesenangan yang sementara.

Maka dari uraian di atas dapat di­ambil kesimpulan bahwa makna ghurur adalah tipu daya. Selanjutnya tipu daya tersebut dapat bersumber dari setan, orang-orang kafir, serta kehidupan dunia dan kegemerlapannya, bahkan dari diri sendiri. Semua itu dapat membawa ma­nusia lalai terhadap Allah dan lupa bah­wa ada kehidupan yang abadi sesudah kehidupan dunia.

AB

Pasang iklan dilihat ribuan orang? klik > murah dan tepat sasaran">Serbuanads >> MURAH dan TEPAT SASARAN