Majalah alKisah

Majalah Islam Online

Kisah para Ibunda Nabi (Bagian 2/Tamat)

www.majalah-alkisah.comDi samping Tsuwaibah, yang menyusui Rasulullah pertama kali saat dilahirkan, ada Barakah Ummu Aiman, yang menemani hidup beliau sejak dilahirkan, merawatnya dan melayaninya. Ada Halimah As-Sa’diyah, yang menyusuinya, memberinya makan, dan mengasuhnya dengan penuh keibuan. Ada pula Fatimah binti Asad, yang merawatnya setelah Aminah dan kakeknya wafat.

Memuliakannya lebih dari Anak-anak Sendiri

Muhammad mulai bisa memahami fenomena kehidupan masyarakatnya. Pikirannya matang lebih cepat, maka Aminah harus menceritakan perihal ayah­nya kepada Muhammad bahwa ayahnya telah meninggal dunia dan dimakamkan di Yatsrib. Selain itu, Aminah merasakan kerinduan untuk berziarah ke makam suaminya.

Singkat cerita, Aminah, dengan di­temani Barakah, pun menziarahi makam sang suami, Abdullah. Air mata berlinang di pipinya, dan ia tidak mampu memben­dung. Di depan pusara itu, ia teringat kembali masa-masa indah yang pernah ia alami bersama suami tercinta, walau hanya sebentar.

Aminah, Muhammad, dan Barakah ting­gal di Yatsrib selama beberapa bu­lan. Mereka harus segera kembali ke kam­pung halaman mereka, Makkah, se­telah Aminah melepaskan rasa rindunya pada Abdullah dan menyiapkan kekuat­an yang cukup untuk meninggalkannya lagi. Dan, Muhammad banyak mengeta­hui perihal kehidupan paman-paman­nya. Pengetahuannya itu menjadi ke­nangan yang tak mungkin terlupakan selama hidupnya.

Setelah berziarah, Aminah bersiap untuk pergi kembali menuju kota Mak­kah. Ia merasa berat hati meninggalkan makam suaminya.

Di tengah jalan, angin bertiup ken­cang mengembuskan pasir dan kerikil yang beterbangan. Angin kencang itu mem­buat langit segelap malam. Sebe­lum mereka sampai di Abwa (antara Makkah dan Madinah), Aminah merasa­kan sakit menyerang tubuhnya. Suhu tu­buhnya panas. Napasnya tersengal, dan tubuh­nya menjadi lemah.

Aminah melihat sekitarnya, perjalan­an masih sangat jauh. Ia pun memeluk putranya, Muhammad, dan Muhammad merasakan rasa sakit yang diderita ibunya.

Allah menghendaki Aminah melaku­kan perjalanan menuju Yatsrib untuk ziarah ke makam suaminya, Abdullah. Akan tetapi, takdir-Nya pula yang me­nentukan bahwa Aminah tidak pernah kembali lagi ke Makkah, seperti yang terjadi pada suaminya. Ia wafat dalam perjalanan kembali dan dimakamkan di tanah Abwa. Sementara anaknya kem­bali ke Makkah dengan hanya ditemani pembantunya, Barakah.

Begitulah takdir yang berlaku pada Muhammad. Ia harus hidup sebagai se­orang anak yatim-piatu setelah ditinggal oleh ayah dan ibunya. Semua orang di Makkah ikut berduka atas apa yang ter­jadi pada Muhammad. Dan Fatimah binti Asad, istri paman Muhammad, Abu Tha­lib, adalah orang yang paling berduka atas apa yang terjadi pada Muhammad.

Sang kakek, Abdul Muththalib, ke­mudian merawat cucunya. Akan tetapi, takdir pun menetapkan Abdul Muththalib segera menyusul Abdullah dan Aminah. Ia wafat sebelum Muhammad berusia de­lapan tahun. Kemudian Allah meng­hendaki Muhammad dirawat oleh pa­man­nya, Abu Thalib.

Bayangan berbagai peristiwa yang dialami Muhammad dan disaksikan oleh Fathimah binti Asad, suka dan duka, bergelayut dalam pikirannya.

Muhammad pun kemudian menjadi salah satu anggota keluarga Abu Thalib. Ia hidup di bawah tanggung jawab pa­mannya. Ia bergaul dengan anak-anak pamannya: Thalib, Aqil, Ja’far, Fakhitah, dan Jamanah. Sementara Ali belum lahir saat itu. Mereka semua dirawat dan di­perlakukan dengan penuh kasih sayang oleh Fathimah binti Asad, yang dilapang­kan hatinya oleh Allah.

Fathimah berjiwa mulia. Ia suka pada kebaikan dan selalu mencurahkan kasih sayang kepada putra-putranya, terma­suk keponakannya, Muhammad. Ia mem­berikan kasih sayang kepada Mu­hammad yang hampir sama dengan ka­sih sayang Aminah kepadanya. Ia meng­hapus kesedihan Muhammad karena ditinggal oleh ayah dan ibunya. Bahkan, Fathimah memuliakan Muhammad lebih dari anak-anaknya sendiri. Ia memberi­kan kasih sayang dan perhatian yang lebih kepada Muhammad. Demikianlah Allah memberinya sifat kasih sayang hingga ia pun banyak tercatat dalam lembaran-lembaran sejarah.

Fathimah binti Asad memperhatikan dan menyadari keajaiban ini, hingga ia berusaha agar Muhammad selalu ma­kan bersama anak-anaknya, atau ia men­dahulukan Muhammad daripada anak-anaknya, agar mereka mendapat keberkahan dari Allah karena dia. Jika Muhammad terlambat datang karena alasan tertentu, sedangkan anak-anak Abu Thalib telah datang untuk makan, ayah mereka akan berkata kepada me­reka, “Tunggulah Muhammad. Dia ada­lah anakku.” Ia juga berkata kepada Muhammad, “Engkau adalah orang yang diberkahi.”

Beberapa puluh tahun kemudian, Fathimah binti Asad meninggal dunia, setelah menjalani kehidupan yang pan­jang. Ia meninggalkan catatan bersinar dalam lembaran-lembaran sejarah.

Rasulullah sangat bersedih atas wa­fatnya Fathimah binti Asad. Begitu pula putrinya, Fathimah Az-Zahra. Bahkan, se­mua orang di Madinah merasakan ke­sedihan karena wafatnya Fathimah binti Asad.

Jenazah Fathimah binti Asad me­mancarkan sinar bagaikan malaikat. Si­nar itu memperlihatkan sejarahnya yang indah dan pengabdiannya yang ia per­sembahkan kepada Rasulullah, Abu Thalib, suaminya, serta kaum muslimin pada umumnya.

Rasulullah meneteskan air mata. Un­tuk kesekian kalinya, beliau menangisi kepergian satu ibundanya lagi. Beliau pun turun langsung ke lubang kubur Fa­thimah, kemudian meletakkan bajunya di jenazahnya agar ia menjadi salah satu penghuni surga. Beliau mendoakan agar Allah meluaskan tempat peristirahatan­nya yang terakhir itu. Beliau menalqin­nya, kemudian menshalatinya. Begitulah kenangan saat Fathimah binti Asad me­ninggal dunia, setelah ia menorehkan kenangan indah hidupnya.

Semoga Allah menyayangi Fathimah binti Asad sebagaimana ia menyayangi Rasulullah, yang hidup dalam perawatan dan perhatian pamannya. Semoga Allah menyayangi Fathimah sebagaimana ia telah memberikan kasih sayangnya ke­pada Rasulullah. Semoga Allah mem­beri­nya pahala yang besar karena jasa-jasanya kepada Rasulullah SAW. Amin….

IY


Pasang iklan dilihat ribuan orang? klik > murah dan tepat sasaran">Serbuanads >> MURAH dan TEPAT SASARAN