Majalah alKisah

Majalah Islam Online

Menghujat Ulama dan Habaib : Lagu Lama Kaum Wahabi (Bagian 1)

www.majalah-alkisah.comIstilah kritik yang digunakan dalam judul buku ini terasa menjadi bias. Buku ini tak lagi bernuansa kritik, tapi berubah sebagai hujatan. Hujatan kepada ulama dan habaib, lagu lama kaum Wahabi.

Ada semacam fenomena timbulnya semangat keislaman yang menggelora dari generasi muda masa kini. Majelis-majelis agama marak di sana-sini, diskusi-diskusi keagamaan menjadi pemandangan sehari-hari, bahkan masuk hingga memenuhi dunia maya. Tentunya ini adalah perkem­bang­an keagamaan yang menggembirakan, di tengah bobroknya iman dan moral generasi muda di tempat lainnya.

Sayangnya, tak jarang semangat dalam memunculkan Islam dalam diri sebagian mereka tak diimbangi dengan pemahaman yang utuh dalam ilmu aga­ma atau setidaknya kedewasaan dalam berinteraksi sesama insan seagama. Aki­batnya, karakter yang cepat melekat dari cara beragama mereka adalah mu­dah sekali melontarkan tuduhan-tuduh­an keras pada kelompok lain yang ber­beda pemahamannya dengan pemikiran mereka. Dan ini sebenarnya ”lagu lama” kaum Wahabi, sebagaimana tersirat dalam buku Ketika Sang Habib Dikritik (KSHD), yang baru terbit sekitar tiga bulan ini.

[adsense:250x250:0123456789]

Memang, tak ada yang salah dalam semangat mengkritik. Tak boleh pula ada pihak yang merasa tak boleh dikritik, siapa pun dia. Ulama, habaib, kiai, atau siapa pun. Mereka semua manusia biasa, yang tidak suci dari dosa. Mereka boleh dikritik oleh siapa pun, kapan pun, dan di mana pun, termasuk oleh Firanda, sang penulis KSHD.

Buku KSHD merupakan kompilasi dari tulisan berisi sanggahan Firanda selama beberapa waktu terhadap kajian-kajian yang disampaikan Habib Munzir Almusawa, terutama terhadap yang disampaikan Habib Munzir pada buku­nya Kenalilah Aqidahmu. Entah kenapa, sejak lama penulis KSHD sangat fokus menyoroti hampir setiap materi yang disampaikan Habib Munzir bin Fuad Almusawa.

Dari awal hingga akhir tulisan, KSHD memang tidak secara terang-terangan menyebut nama Habib Munzir sebagai tokoh ”sang habib” yang dikritiknya. Tapi, sebelum menjadi sebuah buku, materi-materi tulisan itu telah lama dipublikasi­kan pada blog pribadinya dan nama Ha­bib Munzir tertera di sana. Entah pula ka­rena alasan apa penulisan di buku dan publikasi di internet dibedakan oleh pe­nulisnya. Yang satu nama Habib Munzir tak disebut, yang satunya lagi disebut.

Awalnya, karena melihat judulnya, banyak orang menyangka bahwa isi buku KSHD adalah semacam kritikan ter­hadap komunitas habaib secara umum atau pribadi Habib Munzir secara khusus. Nyatanya tidaklah demikian. Sebagian besar isinya lebih sebagai kritikan terhadap paham para ulama dan habaib, dus hujatan atas beberapa tokoh ulama dan habaib kecintaan umat.

Isi buku KSHD tak ubahnya buku-buku Wahabi lainnya yang menentang berbagai keyakinan yang dianut mayo­ritas umat Ahlussunnah wal Jama’ah, bukan hanya di Indonesia, tapi juga di dunia. Isu-isu yang diangkat pun tak jauh-jauh dari masalah kuburan, tawa­sul, istighatsah, dan isu-isu lama lainnya.

Berdusta atas Nama Imam Syafi’i?

Seiring dengan tuduhan kepada Habib Munzir bahwa ia berdusta atas nama Imam Syafi’i saat ia berdalil perihal bangunan masjid di atas makam, banyak tulisan lainnya yang kemudian beredar. Isinya menyanggah tuduhan atas Habib Munzir, yaitu bahwa Habib Munzir bu­kan­lah seorang yang berdusta atas nama Imam Syafi’i. Tampaknya tuduhan terhadap Habib Munzir muncul karena ada misinterpretasi terhadap tulisan Ha­bib Munzir dalam Kenalilah Aqidahmu.

Selain meneliti teks-teks kitab yang dibawakan, masalah ini sesungguhnya juga bisa dicermati secara historis. Mas­jid Nabawi, yang nota bene di dalamnya terdapat makam Rasulullah SAW dan kedua sahabat utamanya, Abubakar RA dan Umar RA, sejak dulu terus diperluas dan diperluas. Bila saja perluasannya itu menyebabkan hal yang dibenci dan dilaknat Nabi SAW, karena menjadikan kubur beliau SAW menjadi berada di te­ngah-tengah masjid, pastilah ribuan ula­ma dari masa ke masa akan menyeru­kan agar perluasan tidak perlu menca­kup rumah Aisyah RA (makam Rasul SAW).

Perluasan Masjid Nabawi pertama kali terjadi di zaman Khalifah Al-Walid bin Abdulmalik, sedangkan Al-Walid dibai’at menjadi khalifah pada 4 Syawwal tahun 86 H/11 Oktober 705 M, dan wafat pada 96 H/715 M.

Di manakah Imam Bukhari (194-256 H/810-870 M), Imam Muslim (206-261 H/822-875 M), Imam Syafi’i (150-204 H/767-820 M), Imam Ahmad bin Hanbal (164-241 H/781-856 M), Imam Malik (93-179 H/712-796 M), dan ratusan imam lainnya? Apakah mereka bersepakat untuk diam membiarkan “hal yang dibenci dan dilaknat Rasul SAW” terjadi di makam Rasululullah SAW?

Justru inilah jawabannya, mereka diam karena hal ini diperbolehkan, bah­wa orang yang kelak akan bersujud meng­hadap makam Rasulullah SAW itu tak satu pun berniat menyembah Nabi SAW, atau menyembah Sayyidina Abu­bakar RA atau Sayyidina Umar bin Khaththab RA. Mereka terbatasi dengan tembok, maka hukum makruhnya sirna dengan adanya tembok pemisah.

 

(Bersambung)

Pasang iklan dilihat ribuan orang? klik > murah dan tepat sasaran">Serbuanads >> MURAH dan TEPAT SASARAN